12/28/2015

The World of The Von Trapps

If you've ever watched The Sound of Music, you'd probably know the Von Trapp family. Setelah kali ketiga nonton, gue baru sadar kalo filmnya cheesy banget. Lagi sedih, nyanyi. Lagi takut, nyanyi. Lagi seneng, nyanyi. Lagi khawatir, nyanyi. Iya lah nyanyi terus, wong itu film musical. But you do get my point. Ada satu hal yang nggak cheesy : lokasi syutingnya. Liburan natal kali ini gue pun memutuskan untuk kabur ke Salzburg untuk ketemuan sama sahabat gue.

As you know, I'm a sucker for nature. Kalo ditanya lebih suka pantai atau gunung, udah pasti gue jawab gunung. There's something about it yang bikin gue bisa ngeliatin doang ampe lama. Sesuatu yang gede banget dikasih liat di depan mata lo. Apalagi kalo musim dingin gunungnya jadi abu-abu putih mistis gimana gitu. Plus kalo maen ke gunung gue nggak usah capek-capek bersihin kaki gue yang kotor gara-gara pasir. Why Salzburg? Hanya karena gue pingin ngeliat pegunungan Alpen lagi. Udah tiga kali gue nyamperin pegunungan ini, but I never get enough. Ternyata kota Salzburgnya sendiri cukup bagus. Gue akuin vibe natal dan dekorasinya lebih oke daripada di Berlin. Kotanya pun lebih tua, lebih klasik. Ternyata untuk di Salzburgnya sendiri satu hari juga udah cukup. Nggak banyak yang bisa diliat, nggak yang bikin wow gimana gitu (kecuali Untersberg. Man, I love that place). Tapi kalo lo keluar dikit dari Salzburg, lo akan disuguhin sama pemandangan yang warbyaza.

So here's a glimpse of my journey in Austria :
































12/27/2015

Blue Sky Collapse

Tadinya malem ini gue mau tidur cepet, tapi gue inget hari ini Dimas, Dika, dan Mateus siaran jam 10 malem. Hari ini temanya cerita hantu. Biasa lah mereka suka random, tapi gue dengerin aja. Sekalian nemenin gue makan malem nasi pake telor dadar.

Terus tiba-tiba yang diputer lagu Blue Sky Collapse nya Adhitia Sofyan. Nice.

Tiba-tiba gue galau. Nggak galauin siapa-siapa, asli deh. Lebih ke ngegalauin apa. Sewaktu lagu ini gue dengerin, gue sembari flashback ke masa lalu, masa di kala gue masih remaja belasan tahun. Dengerin lagu Adhitia Sofyan yang gue download secara gratis di website si Adhit sendiri, karena gue waktu itu ngikutin Raditya Dika yang lagi proses bikin film dan Adelaide Sky dipilih untuk jadi original soundtrack Kambing Jantan. Singkat cerita, lagu-lagu dia jadi salah satu lagu yang paling sering gue setel di iTunes. Lagu-lagu doi nemenin countless sleepless nights yang berlalu hanya karena gue lagi into internetan banget sampe nggak rela kalo waktu internetan gue dipake buat tidur. What did I do? Ngeblog dan blog walking. Blog walking, kata yang udah lama banget nggak gue denger. I remember scrolling through Casseybunn's blog and other blogs yang randomly gue temuin malem itu. Semaleman gue baca blog orang. Iya, isi blog orang lain masih seseru itu sampe bikin gue tidur pagi. Mereka se-freely itu cerita apapun di blog. Semuanya hanya kata-kata. Satu sampai dua foto mungkin disisipin di postingan biar nggak terlalu bosen. I loved reading their stories and I loved writing mine, too. Selain buka tab blogger, gue suka sekalian buka Deviantart. Iseng-iseng scrolling pagenya poopart dan dottydotcom. Gue suka ngelike-likein foto-fotonya poopart karena temanya warna-warni kayak popart (Iyalah, nama akunnya aja poopart. Duh.). But dottydotcom was my favorite, because I adore her bright and colorful yet calming photos. Satu lagi, gue suka juga buka Friendster. Duh, iya Friendster. Website ini udah nggak ada lagi ya sekarang? Padahal seru banget. Lebih seru dari Instagram, Facebook, sama Path. Kapan lagi lo minta orang lain buat ngisi kolom Testimonial lo? Kapan lagi juga lo bisa ngedekor sendiri profile lo pake tulisan glitter? Mungkin saat itu Facebook udah ada, tapi dulu gue nggak ngerti cara maen Facebook. Konsep ngasih gifts lucu yang bisa keliatan di sidebar profile kita masih sulit gue pahami sampe sekarang.

YouTubers yang dulu selalu gue tontonin videonya, yang bikin gue terpingkal-pingkal dengan jokes bule recehnya mereka, udah nggak pernah upload video lagi. Penyanyi-penyanyi amatir yang suaranya bagus itu juga udah jarang banget ngecover lagu lagi. Sekarang YouTube isinya makeup tutorial plus vlog manusia modern yang ingin mencoba eksis di dunia maya, padahal yang nontonin vlognya mereka juga nggak ada. Blogger juga udah sepi. Anak-anak hipster angkatan awal udah pada nggak ngeblog lagi kayaknya. Udah pada ilang entah kemana. Walaupun gue suka nggak paham, tapi gue suka aja baca tulisan mereka yang sengaja dibikin misterius ala-ala pujangga dengan gaya bahasa yang tersirat bikin penasaran itu. Sementara gue masih menulis blog seperti 6 tahun lalu. Kayaknya gue nggak mau give up sesuatu yang mengikat gue dengan masa lalu. Sama seperti gue sulit banget untuk ngebuang baju-baju lama atau barang-barang yang udah nggak terpakai. Iya, sesulit itu gue untuk move on.

Semakin gue tua gue sepertinya semakin sensitif. Buktinya tiap kali gue nonton atau denger hal-hal dari jaman dulu, gue jadi mendadak melankolis kaya sekarang. Kayaknya gue nggak terlalu suka sama masa sekarang dan kenyataan kalau gue nggak bisa balik ke masa lalu bikin gue jadi sedih. Jaman dulu semua kayaknya tentram banget. Everything was meaningful. Everyone was genuine. Sekarang semuanya nggak berarti. Lagu-lagu udah nggak asik lagi untuk didengerin. Nggak bisa lagi nemenin gue menjalani sewaktu tempo, sehingga gue bisa inget terus sama momen tersebut setiap kali gue denger lagunya. Kebersamaan udah nggak indah lagi, karena sekarang manusianya terlalu sibuk selfie bareng biar bisa diupload di Path dan Instagram. Maybe it's just me, but I feel everything has changed completely. Apa mungkin karena gue semakin bertambah tua, maka hidup jadi bertambah sulit? Apa mungkin karena gue semakin dewasa, maka gue jadi makin serius sehingga gue nggak bisa menemukan momen-momen indah yang gue dapetin di masa lalu? Atau mungkin pikiran gue udah terlalu carut marut, sehingga nggak mau lagi dipenuh-penuhin sama lagu apapun?

Dunia juga sekarang dipenuhi dengan orang-orang baru. Manusia kayaknya sekarang makin banyak sampe gue nggak kenal lagi muka-mukanya. Jakarta dulu berasa sempit, karena orang yang muncul dipermukaan ya dia-dia doang. Orang-orang lama pada kemana ya? Mungkin udah pada punya dunia masing-masing kali ya. Mungkin ini yang namanya regenerasi. Yang lama-lama udah pada pensiun, digantiin sama yang baru.

Tapi masalahnya yang baru kurang asik, kurang seru.

I just downloaded Adhithia Sofyan's full album. Songs that I used to listen to six years ago. Kayaknya untuk beberapa hari ini gue akan dengerin lagu-lagu ini terus sambil mengenang masa lalu.

Still everyday I think about you
I know for a fact that's not your problem
But if you change your mind you'll find me
Hanging on to the place
Where the big blue sky collapse