A cup of tea
A Cup of Tea
Profile

Hi, I'm Gita Savitri Devi. I currently live in Berlin, Germany. I am a full-time chemistry student at Free University of Berlin and sometimes I sing, too.



Social Media

Twitter Soundcloud YouTube



Archives

April 2009 • May 2009 • June 2009 • July 2009 • August 2009 • September 2009 • October 2009 • November 2009 • December 2009 • January 2010 • February 2010 • March 2010 • April 2010 • May 2010 • June 2010 • July 2010 • August 2010 • September 2010 • October 2010 • December 2010 • January 2011 • February 2011 • March 2011 • April 2011 • May 2011 • June 2011 • July 2011 • August 2011 • September 2011 • October 2011 • November 2011 • December 2011 • January 2012 • February 2012 • March 2012 • April 2012 • May 2012 • June 2012 • July 2012 • August 2012 • September 2012 • October 2012 • November 2012 • December 2012 • January 2013 • February 2013 • March 2013 • April 2013 • June 2013 • July 2013 • August 2013 • September 2013 • October 2013 • December 2013 • February 2014 • March 2014 • April 2014 • May 2014 • July 2014 • 



Follow This Blog

7/20/2014, 10:19 AM
{Enter Title Here}

Sorry about the title right there. I'm not good at naming stuff :)

Setelah mampir lagi ternyata banyak juga ya yang komen di postingan terakhir. Banyakan komennya encouraging tapi ada juga yang nyinyir. Yang komen nyinyir nggak jelas gue hapus, karena gue nggak suka liatnya. Gak guna. Sebulan nggak nulis nih ya. Hmm... Banyak sih yang terjadi belakangan ini yang bisa diceritain. Ada tentang pilpres, serangan Israel ke Palestina, dan kehidupan pribadi. Soo.. Gue rangkum aja ya semuanya dalam satu postingan.

Sekarang ini gue hanya fokus ke diri gue sendiri sih. Gue udah nggak terlalu banyak ketemu orang-orang dan main bareng ataupun kerja bareng seperti di salah satu asosiasi pelajar jaman dulu (padahal baru beberapa bulan lalu gue quit dari situ). Sebenernya ada cerita menarik dari keansosan gue sekarang. Kalo mau diceritain mungkin beberapa orang akan nganggep gue childish kali ya? Atau terlalu sensitif mungkin? Atau mungkin ada anak Indo di Berlin yang baca ini terus nggak suka? Terserah. Let me put it this way, I know how to respect others and I'm always nice to people. Malah kadang overly nice. Tapi mungkin karena itu jadi gue nggak dianggep sebagai orang yang harus disegani? I don't know. Jadi gini, gue bukan orang yang selalu ada maunya kalo ngapa-ngapain. Gue nggak pernah punya niatan untuk menguntungkan diri sendiri when it comes to kerja bareng-bareng. Apapun yang keluar dari mulut gue itu 100% untuk kebaikan semuanya. (Sialnya) gue juga bukan orang yang tau cara berbicara manis dan senyum-senyum. Kenapa gue bilang sial? Iya, ternyata sebagai orang Indonesia kita harus pandai berbicara. Mau dikata ini jaman modern millenium globalisasi atau apapun orang Indonesia itu tipikalnya gampang sakit hati kalo ada orang yang terlalu blak-blakan. Yaa gue juga terkadang suka sakit hati sih, tapi ya kalau gue emang beneran disakitin. Not because of this small silly things. Ngerti kan ini arahnya kemana? Iya, jadi banyak gitu yang nggak suka cara ngomong gue yang mungkin menurut mereka terlalu keras menusuk ke hati. Gue bahkan nggak menyerang personal. Gue hanya mengkritik hal kecil dengan niat yang baik. When I found out about this, I was totally disappointed. Kenapa? Lagi-lagi karena ekspektasi gue terhadap orang-orang yang udah tinggal di luar negri itu bisa lah di ajak fair-fairan. Kalo nggak suka bilang nggak suka, kalo bagus bilang bagus. Ternyata nggak. Yang lebih bikin gue kecewa adalah gue nya jadi diomongin dibelakang. Ini nih hal yang paling gue nggak suka sedunia dan akhirat : dibohongin dan di omongin di belakang. Gue ngerasa dibegoin aja sih. Entah, mungkin karena selama ini gue bermain fair? Selama ini gue kalau ada masalah sama orang selalu gue ngomong ke dia biar dia tau dan biar dia tidak merasa dibohongin sama gue. Nggak tau lah. 

Nggak cuma itu sih yang bikin gue akhirnya males. Jadi waktu itu ngumpul terakhir gitu lah. Terus ada satu sesi dimana lo bisa ngomong apa aja yang lo pendem selama ini. Terus ya gue lakuin lah ke satu orang. I thought kita bakal memperbaiki kekurangan masing-masing dan saling maaf-memaafkan gitu. But no, gue malah disuruh deal with it dan disuruh keluar aja kalo gue nggak suka. Dan yang nyuruh gue itu bukan orang yang gue tuju, tapi orang-orang lain yang ada disitu. I was so speechless man. In total shock banget. Like, "What the?".
Awal-awal gue merasa terganggu banget sama semua ini. Gue ngerasa kesel banget-bangetan sampe akhirnya gue curhat ke nyokap gue. Dia pun menyarankan gue untuk mundur aja dari lingkaran itu. Setuju sih. Gue rasa gue akan terus-terusan dirugikan dan disalahkan karena gue melakukan sesuatu yang menurut mereka salah. Terlebih asal gue dan dari kecil juga gue nggak di didik lemah-lembut kayak tuan putri. Selama ini yang nyokap selalu ajarin adalah kita harus baik sama orang dan kita harus banget ngertiin orang. Tapi kalo orang itu makin lama makin ngelunjek karena keenakan (contohnya begini nih), ya peringatin dan tinggalin. Kalo berpikir atas asas take-and-give, sebenernya orang-orang macam begini kerjaannya take melulu dan never give back.

Intinya gue kecewa dengan orang-orang disekitar gue yang ternyata nggak ada bedanya sama pas jaman SMP-SMA dulu. Dimana lo bakal gampang tersinggung cuma gara-gara hal kecil. Dimana lo bakal tiap hari ngomongin orang lain dibelakang, tapi kalo didepan bertingkah seakan-akan semuanya baik-baik aja. Lo nggak bisa jujur dalam berpendapat, karena nanti bakal menyinggung orang. Lo harus selalu pasang topeng dan fake smile setiap keluar rumah dan masuk ke kerumunan orang. I mean really?? Lo udah jauh-jauh dragging your body sampe ke tanah eropa, tapi mental masih nggak berubah juga? Luar biasa.

Another thing yang bikin gue gusar adalah pilpres. Kalo ngomongin ini mungkin bakal banyak yang tersinggung kali yah? Yaudah nggak usah diomongin. Yang pasti gue kasian sama salah satu capres yang selalu di hujam fitnah sana-sini. Doi kesel sedikit dilebay-lebayin katanya ngamuk-ngamuk. Doi gimana dikit dinyinyirin. Salut sih gue sama gimana dia bisa menghadapi haters dan orang-orang ternyata kalo udah fanatik bisa sampe menggila ya?

So now kita ke Palestina. Gue kebetulan nge-follow salah satu akun yang selalu meng-update keadaan disana. Setiap detik ada aja yang meninggal atau cidera gara-gara di hantam sama bom atau pelurunya tentara Israel. Sedih banget gue bacanya dan yang pasti nggak habis pikir. Gila ya, makin lama nyawa manusia makin nggak ada harganya. Orang-orang bisa gampang banget nyabut nyawa orang lain. Padahal mereka sama sekali nggak ada hak buat ngelakuin itu. Lebih gilanya lagi banyak negara yang seakan nggak peduli sama mayat-mayat rakyat Palestina yang bergelimpangan di sana dan mereka lebih memilih untuk ngedukung yang semestinya nggak di dukung. Semestinya... Tapi sekarang lagi trend yah kayaknya? Zaman dimana yang benar itu disalahkan dan yang salah itu dibenarkan. Sekali lagi, luar biasa. Belom lagi media sekarang udah bener-bener nggak netral. Puluhan ribu orang diseluruh dunia berdemo untuk kebebasan Palestina, tapi nggak ada yang disorot. Nggak cuma Amerika, Inggris, dan Jerman yang mendukung Israel untuk ngebombardir Gaza atas dasar "membela diri", tapi juga beberapa orang yang gue kenal juga mendukung. Yang kocaknya mereka malah nyuruh kita-kita yang mengecam untuk mengkroscek kembali alasan mengapa si Zionis ngelakuin hal itu dan jangan langsung berkoar-koar. Gue liatnya cuma bisa senyum miris. Ternyata bener, hati nurani manusia kebanyakan udah mati. Mungkin posisinya harus dibalik, doi jadi orang Palestina yang sekarang lagi nggak bisa tidur gara-gara denger suara meledak dimana-mana. Gue rasa sebelum doi dibunuh tentara Zionis, dia udah bunuh diri duluan karena nggak kuat ngadepinnya. Salut gue sama perkembangan kualitas manusia. Makin lama makin merosot, Bung. Mari tepuk tangan.

Gue melihat dunia makin lama udah makin nggak kekontrol sih. Huru-hara dimana-mana, orang makin gila kekuasaan dan meng-Tuhan-kan uang. Makin nggak bisa bedain lagi mana yang bener dan mana yang salah. Anak-anak mudanya makin nggak peka dan aware sama "musuh" yang sebenarnya dan yang tua makin ngasih contoh yang nggak bener. Selalu dan selalu gue mengingatkan diri sendiri untuk jangan pernah lengah. Bumi ini seperti medan perang. Perangnya kita bukan dengan senjata atau sebilah pedang, tapi dengan kemawasan diri dan keimanan. (Mengingat iman gue yang masih tipis kaya sehelai rambut, gue juga takut gue bakal kalah perang). Kita pun perangnya bukan sama musuh didepan yang lagi lari-lari bawa golok buat ngebunuh kita, tapi sama arus kanan-kiri yang membuat kita jadi makin jauh dari jalan yang bener. Serem banget gue ngebayanginnya. Dulu dikala orang-orang masih berjalan dijalur yang ditetapkan (yang katanya kuno itu) kita bisa mudah untuk membedakan. Contohnya gini deh, dulu emang lo pernah ngeliat orang pamer badan dijalanan? Pake crop t-shirt atau celana super pendek? Nggak. Malah kalau ada yang kayak gitu, pasti langsung diliatin sinis sama orang-orang. Apalagi kalo kita lagi jalan sama orang tua kita dan kebetulan ngeliat gituan, pasti langsung dikomenin. Coba kalo sekarang lo nyinyirin orang kayak gitu, yang ada lo dipedesin "Baju baju gue. Mau apa lo?".Dari situasi-situasi itu kita yang muda-muda dan baru lahir ini jadi bisa ngeh "Oh ternyata nggak boleh ya kayak gitu?". Bedain sama sekarang. Orang-orang penyuka sesama jenis aja di dukung habis-habisan dan malah ada parade nya dimana doi cium-ciuman sesamanya sambil joget-joget diiringi musik dugem diatas karavan atau truk terbuka. Orang liberal juga sekarang banyak kan yang dukung? Padahal landasan pemikirannya nggak jelas apa. Mau semenyimpang apapun juga pasti banyak yang ngedukung. Nah yang begini-begini yang bahaya. Sekarang mayoritas berada diposisi yang salah. Teruntuk generasi-generasi penerus dan dedek-dedek muda kaya kita-kita cobaannya akan jauh lebih sulit dan kita dipaksa untuk berpikir lebih keras. Yang terkenal dan banyak supporter belum tentu benar. Kalau salah-salah mikir bisa masuk lubang buaya dan susah keluarnya.

Gile, udah banyak aja gue nulis. Yaudah deh gue stop disini aja. Have a nice day everyone!

Labels: , ,


18 comments. LEAVE A COMMENT


Ende

5/12/2014, 3:58 PM
Curhat Lagi, Curhat Lagi

Gue nggak tau dimana gue harus nulis uneg-uneg ini dan gue nggak tau mesti curhat ke siapa tentang hal ini. Terus gue jadi inget kalau gue punya blog yang bisa gue tulis tentang apa aja. Nyahnyahnyah.

Kali ini temanya agak sensitif, tentang agama. Kenapa gue mau curhat tentang agama? Karena gue udah nggak kuat lagi ngeliat kanan-kiri gue, di twitter, facebook, sosial media mana pun nyudutin agama gue. Intinya gitu. So, disini gue nggak mau nulis tentang apa yang bener dan mana yang salah. Gue pure 100% pingin curhat.

Jadi gini, gue terlahir islam. Nyokap-bokap dan keluarga gue semuanya islam. Terlebih dari sisi nyokap gue islamnya kuat banget. Harusnya ya gue religius banget dong ya. Tapi waktu gue masih labil dan masih baru dateng ke Berlin, bisa dibilang pikiran gue liberal banget. Didalam diri gue memperbolehkan aja minum alkohol asal nggak mabuk, karena gue pikir Allah SWT melarang kita ngelakuin sesuatu karena akan ada efek samping yang buruk. Selama nggak ada hal buruk terjadi, ya sah-sah aja. Begitu juga dengan makanan. Gue bener-bener nggak hati-hati sama makanan. Gue emang nggak makan babi, tapi gue asal makan daging sapi atau ayam yang nggak di sembelih pakai nama Allah alias halal. Dulu (juga) gue pikir "Yaa selama nggak babi nggak papa.". I'm that type of person yang nggak mau asal percaya aja sesuatu kalau nggak ada alasan atau buktinya. Jadi gue pasti nyari info tentang semua larangan yang ada di agama gue, sebelum gue mau nerapin. Gue tapi kenapa babi haram, karena dia tinggal di lumpur dan DNA nya mirip manusia dan blablabla (based on my research on the internet and other sources). But still, gue tetep nyeleneh dengan memperbolehkan diri gue makan daging apapun asal bukan babi dan yang hidup di dua alam. I totally forgot kalau sapi akan tetap haram kalau nggak di sembelih secara islam. Nggak cuma urusan makanan doang, gue pun selalu mencoba nge-deny apapun yang sebenernya dilarang. Selalu mencari pembenaran.
So basically gue dulu liberal lah pikirannya.

I'm not saying that now I'm a perfect muslim yang menjalankan semua wajib dan sunnah. Gue masih nggak nutup aurat, gue masih pacaran, gue masih suka salaman sama yang bukan muhrim, dan lain sebagainya. Tapi sekarang gue at least sangat mengerti akan semua larangan dan terapan dalam agama gue, karena itu semua make sense. Gue ngerti kenapa merokok itu tidak diperbolehkan, gue mengerti kenapa musik sebenernya haram, apapun itu lah. Karena gue selalu ingin terus belajar dan terus berjalan ke arah yang Tuhan gue mau. So, gue suka nanya-nanya sama temen gue yang ilmunya lebih tinggi, gue suka baca kajian-kajian apa, atau nonton video di YouTube. Gue mau untuk terus nerapin wajib dan sunnah yang gue tau. Gue tau hidayah itu bukan didapat, tapi hidayah itu dicari. Akhirnya gue pun sekarang terus coba ngelepas ego gue, gue coba buka pikiran gue untuk menerima itu semua. Karena kalau gue masih dengan ego gue sebagai manusia, yang paling nggak suka kalau dilarang, nggak suka nggak bebas, gue nggak akan pernah bisa jalan ke arah Jannah. Karena gue akan makin cinta sama dunia dan makin nggak rela untuk ngelepasin segala hal yang bersifat dunia. Walaupun gue masih sering nge-keep sifat manusiawi gue yang maunya nyeleneh-nyeleneh nggak jelas.

Dulu juga gue berpikir religion is like p*nis, so you don't have to show it to everybody. Terus lama-lama gue mikir, "Harusnya gue bangga kalau gue memperlihatkan status gue. Harusnya gue bangga mendeklarasikan diri gue kalau gue itu muslim. Bukannya malah nutupin.". Dulu gue paling nggak mau orang tau kalau gue tahajjud, atau kalau gue sholatnya cukup sering. Ibadah gue jalan terus kok, but I didn't want anyone to find out about it, karena nanti mereka memberi label ke gue : Gita itu islam banget.

So now after finally ngerti kenapa ini boleh-kenapa itu nggak boleh, gue jadi sadar kalo hati gue lemah (Lah kok tiba-tiba ke hati?). Gue rasanya mau nangis kalo orang mikir islam itu identik dengan orang miskin, orang yang tertutup sama majunya dunia sekarang, orang yang cuma taunya aqidah, syariat, tajwid, tapi nggak tau informasi, nggak tau pengetahuan umum. Gue berasanya sakitt banget kalau ngeliat temen gue yang ngomong kalau jilbab syar'i itu kayak ninja and then they laughed. I mean why are you laughing? Is that even funny? Gue pribadi mau banget someday berhijab syar'i. Do you have problem with that?
Banyak juga sekitar gue yang beropini kalau politik itu nggak boleh dicampuradukan sama agama. Mereka juga menyebut-nyebut istilah "Islamisasi". Kayaknya mereka fobia banget sama islam. Karena mereka pikir kalau hukum islam di praktekan, maka yang non islam akan dibumihanguskan atau apa lah. No! Seandainya aja mereka yang ngomong itu ngerti apa itu islam, mereka nggak akan pernah ngomong itu. Karena islam itu sangat toleransi. Kita nggak anti kristen, kita nggak anti katolik, bahkan kita nggak anti sama atheist. Seperti di surat Al-Kafirun, "Agamaku agamaku, agamamu agamamu.". So why do you have to be that afraid?
Nggak jarang juga orang-orang yang "islam banget" di ceng-cengin. Dikatain onta lah, arab lah. Lucunya, orang-orang yang nyudutin islam itu banyak yang non muslim. Ada sih temen gue, dia non muslim. Tapi dia kayaknya iseng banget suka ngurusin agama gue. Rasanya gue pingin nanya "Lo pakar islam banget ya? Kesannya tau banget apa yang lo omongin.".
Intinya mereka yang nggak suka, berpendapat kalau agama gue itu terlalu strict, nggak fleksibel, dan ketinggalan jaman. Mereka berpikir kalau agama lah yang harus menyesuaikan zaman, bukan sebaliknya. I totally disagree! Kita itu diturunkan ke dunia sama yang diatas dikasih pedoman. Kita dikasih buku "How To Survive In This Life". In this case it's Quran. We have to look it up everytime. Bukannya malah bilang "Ah elah semuanya aja dilarang. Ini dilarang. Itu dilarang. Semuanya di atur-atur.".

My point is, buat orang-orang yang suka nyudutin kami, why are you doing that? Apa untungnya buat kalian? Nggak bisa kah kalian coba berpikir dan bertoleransi terhadap apa yang kami yakinin? Kenapa yang nggak mau pacaran harus di-ceng-in? Kenapa yang nggak minum di bilang nggak gaul? Kenapa orang-orang yang berusaha untuk makin baik malah dibilang sok alim?
Life would have been better if we can tolerate and understand each other. Gue ngerti kok kalau temen gue tiap minggu nggak pernah bisa di ajak jalan karena dia harus ke gereja. Gue nggak berhak complain. Gue pribadi nggak akan pernah mau ngurusin keyakinan orang dan tata cara hidup orang, karena gue nggak ada hak untuk ngelakuin itu. Nggak masalah kalau kalian berbeda pendapat dengan gue, it's normal. I don't care if you are liberal or ahmadiyah or whatever you name it. As long as we don't make a fuss over it, semua akan baik-baik aja toh?

Labels:


28 comments. LEAVE A COMMENT


Ende